Selamat Datang

Selamat Datang
Kasih Sayang Kunci Sukses
Cindejiwiyata Selamat Datang dan bergabung pada referensi blogspot kami. Sumbangkan saran dan Bantuan yang normatif demi kemajuan kami Mohon Maaf bila ada penyimpangan dan menimbulkan kerugian pada pribadi

Minggu, 25 Maret 2012

Memilih Bahasa Inggris Menjadi Muatan Lokal Unggulan Global Sekolah Dasar

Ole: Sri Ika Handayani, S.E., M.Pd


Ada beberapa pilihan untuk lebih mendalami dalam pendidikan Bahasa Inggris untuk Sekolah Dasar. beberapa kemungkinan yang bisa dipilih: sebagai contoh:
Fill in the blanks !
1. What is the leader of republic?
2. Who is the president of Indonesia?
3. This is my handphone.
4. Arrange this words to be a good sentence !
5. Meteor, planets, and starsare the one objects.
Dari kelima pilihan yang dapat di alternatifkan adalah penuntunan pada karakter kebangsaan dengan mendalami Karakteristik sumber daya manusia yang bisa “hidup” diabad XXI adalah manusia yang benar-benar unggul, dan memiliki kompetensi :
- Berfikir kreatif-produktif.
- Pengambilan keputusan
- Pemecahan masalah
- Belajar bagaimana belajar
- Kolaborasi
- Pengelolaan diri.
Kasemuanya dapat diukur dengan kriteria dan standart Penilaian Pendidikan Bahasa Inggris dengan mendasarkan pada:
Gagasan mengenai “ What should a learning environment provide” terkait pemikiran siapa yang seharusnya mengotrol proses belajar mahasiswa sebagai subyek belajar ( Learner Control ) atau kondisi/system di luar diri mahasiswa (system control) pertimbangan untuk menyediakan lingkungan belajar yang bebas untuk melakukan pilihan–pilihan sangat penting.bagi dosen yang ingin meningkatkan ”growth in learning dan emotional scurity”bagi mahasiswa.
Kebebesan unsur penting dalam lingkungan belajar.pengetahuan lingkungan belajar sangat diperlukan agar mahasiswa mampu melakukan kontrol terhadap pemenuhan kebutuhan emosionalnya. Prakarsa mahasiswa untuk belajar { the will tolern) akan mati, bila kepadanya dihadapkan pada berbagai macam aturan yang tidak ada kaitannya dengan belajar. Mahasiswa akan takut dan akan mengembangkan kondisi (defence mechanism). Satu hal lagi yang dapat menimbulkan “the will to learn” adalah realaress”. Yaitu sadar bahwa mahasiswa disamping mempunyai kekuatan juga mempunyai kelemahan.
Lingkungan belajar yang bebas dan didasari oleh realnessdari semua pihak yang terlibat akan dapat menumbuhkan sikap dan persepsi yang positif terhadap proses belajar.
Kebebasan, realness, dan sikap serta persepsi yang positif terhadap belajar menjadi modal dasar untuk memunculkan prakarsa belajar. Disamping untuk menumbuhkan prakarsa belajar penataan lingkungan yang memberi kebebasan untuk berbuat dan melakukan pilihan juga mengembangkan kemajuan mental yang kreatif dan produktif.
Pola Pendidikan “Hukum Rimba”
Aktifitas belajar lebih banyak diarahkan untuk mencerminkan apa saja yang diajarkan, tanpa upaya dan peluang untuk mendiskusikannya lebih dalam untuk menemukan keterkaitan dan kecocokan kebutuhan mahasiswa. Ada kalanya yang menyebutkan dan berujar dapat bahwa system pendidikan kita adalah system “indoktrinasi” yang identik dan disepadankan dengan “system pendidikan” hokum rimba”. Melihat kenyataan tersebut menyebabkan kampus bukanlah tempat yang menyenangkan untuk belajar, tetapi merupakan tempat penyiksaan yang terancang rapi.
Indikator Keberhasilan Pendidikan
Kesejahteraan mahasiswa mestinya diangkat menjadi indicator keberhasilan pendidikan/pembelajaran disuatu perguruan tinggi.
Asumsi-asumsi yang perlu dipatok sebagai landasan pengembangan konsep pembudayaan belajar mahasiswa, yang menjadi landasan praktek pendidikan di PT, adalah
- Siswa adalah makhluk yang bebas membentuk dirinya sendiri.
- Siswa adalah makhluk yang bermartabat.
- Siswa mampu mengontrol dirinya sendiri.
- Siswa adalah “si belajar” dengan karakteristiknya yang khas.
Konsep pendidikan di tingkat yang lebih tinggi perlu ditinjau lagi.
Konsepsi pemberdayaan belajar siswa sangat penting untuk diimplementasikan, karena masih banyak fenomena pendidikan/pembelajaran lainnya yang sekarang ini terjadi, tanpa disadari mengapa itu dilakukan.
Salah satu karakteristik siswa, terutama mahasiswa-mahasiswa yang termasuk berbakat adalah kebutuhan akan kebebasan dalam melakukan control diri. Secara khusus, meskipun keinginan belajar, cara belajar, dan hal-hal lain yang terkait dengan pemberdayaan belajar siswa, banyak tergantung pada pembawaan, namun sejauh mana belajar itu benar-benar terjadi dalam diri dalam upaya menjawab tantangan ini.
Pokok-pokok pikiran tentang system pembelajaran di PT Suinor ( 1969 ) telah mengklasifikasikan variable-variabel system pembelajaran, yang dikatakannya sebagai komponen utama dari ilmu merancang ( a design science ) menjadi 3, yaitu :
1. Alternative goals or requirements
2. Possibilities for action.
3. Fixed parameters or constraints.
Klasifikasi lain dikemukan oleh Glaser (1965, 1976) yang disebutkan sebagai empat components of psychology of instruction. Keempat komponen ini adalah :
1. Analisis isi bidang studi
2. Diagnosis kemajuan awal siswa
3. Proses pembelajaran
4. Pengukuran hasil belajar.
Nah argumen ini akan lebih memfokuskan kepada para pendidik Bahasa Inggris untuk lebih mementikan aspek yang menunjang kesadaran siswa dalam karakteristik Nasionalimenya.

2 komentar:

  1. Wah bila merata betapa siswa SD lebih mendasari galian Nasionalis lebih kokoh... aku stuju Bu Guru....

    BalasHapus
  2. Wah bila merata betapa siswa SD lebih mendasari galian Nasionalis lebih kokoh... aku stuju Bu Guru....

    BalasHapus